*Syababul Islam*

11 02 2009

Salam Perjuangan buat ikhwah & akhawat Auckland, NZ. Semoga terus kuat bekerja keranaNya. Beramallah selagi masa masih ada…

Syababul Islam

Kami memerintah dunia ini berkurun-kurun

Nenek moyang kami kekal menaklukinya

Kami salin semula lembaran-lembaran tamadun

Zaman tidak melupainya, kami juga tidak melupainya

Dan jika mereka mencabar kami

Dengan kekejaman, akan kami pijak-pijak dahinya

Penuh dihati kami petunjuk yang kuat

Kami tidakkan mengelipkan mata, tidak kami biarkan kezaliman

Di suatu masa kami bina kerajaan di muka bumi

Dibantu oleh para pemuda yang kuat semangatnya

Pemuda-pemuda mempermudahkan tercapainya cita-cita

Mereka tidak mengenali selain Islam sebagai cara hidup

Mereka dijaga, maka mereka dipelihara dalam pemeliharaan

Yang mulia, mengharumi dunia sebagai cabang kami

Apabila mereka melihat peperangan, semangat pun berkobar

Lalu mereka musnahkan penjara dan kubu pertahanan musuh

Merekalah pemuda yang tidak dirosakkan oleh malam

Mereka tidak menyerahkan pegangan mereka kepada musuh

Bila malam menjelang mereka tidak kelihatan berkeliaran

Kerana takut akan Allah, mereka hanya bersujud

Demikianlah Islam menghasilkan dari kaumku

Pemuda-pemuda yang ikhlas, bebas lagi dipercayai

Mereka diajar bagaimana membentuk kemuliaan

Agar mereka menolak pembelengguan atau penghinaan

Tidak disedari zaman telah silih berganti

Hingga hilang keagungan umat ke tangan orang lain

Tidak ku dapati kaumku di dalam perlumbaan

Sesungguhnya mereka pernah menjadi ketua sekian tahun

Sungguh menyedihkan aku dan setiap orang yang bebas

Menjadi tanda tanya; di manakah umat islam???

Aku sangsi sama ada yang lepas akan berulang

Sungguh aku menjadi lebur kerana kecintaanku kepada zaman silam

Jauhkan aku dari harapan yang palsu

Tidak ku dapati harapan itu melainkan hanya khayalan

Bawakan untukku cahaya dari iman

Kuatkan di antara dua rusukku dengan keyakinan

Ku hulurkan tangan lalu ku ragut kemuncak kekuasaan

Dan ku bina keagungan yang bergemerlapan lagi padu.

Advertisements




Time asks no questions, it goes on without you

11 02 2009

You gotta be
by Des’ree

Listen as your day unfolds;
Challenge what the future holds;
Try to keep your head up to the sky;
Lovers they may cause you tears;
Go ahead release your fears;

Stand up and be counted;
Don’t be ashamed to cry;

You gotta be bad, you gotta be bold, you gotta be wiser;
You gotta be hard, you gotta be tough, you gotta be stronger;
You gotta be cool, you gotta be calm, you gotta stay together;
All I know, all I know love will save the day;

Herald what your mother said;
Read the books your father read;
Try to solve the puzzles in your own sweet time;
Some may have more cash than you;
Others take a different view;

Time asks no questions, it goes on without you;
Leaving you behind if you can’t stand the pace;
The world keeps on spinning, can’t stop it if you tried to;
This time it’s danger staring you in the face;
Remember..

All the best to all my beloved sisters in Auckland. man jadda wa jada.

Selamat menuntut ilmu! Doa dari kejauhan..





Sedingin Salju Sakinah, Sekental Sumayyah…

5 02 2009

latahzan.jpg

Sedingin Salju Sakinah, Sekental Sumayyah…

Jika ini ketentuanMu,
ku cuba tabahkan hatiku,
kerana pasti tersirat sesuatu di balik yang tersurat itu…
kerana ku manusia biasa,
tidak terdaya memikirkan apakah hikmahnya…
apakah rahsianya..
hidup ini terus berputar,
tiada masa untuk lengah,
tiada masa untuk patah,

ku kuatkan hati yang serapuh kaca ini,
ku salutkan bersama doa tulus suci,
kerana doa itu tersimpan satu kekuatanku,
kekuatan dari yang Empunya segalanya…

dan pastinya dunia bukan milikku sendiri,
untukku atur segalanya,
kerana yang takdir itu mengatasi tadbir…
tadbir dari manusia yang lemah,
takdir dari Tuhan Yang Maha Mencipta,

ku simpan segala pahit dan duka,
dalam surat kehidupan ini,
yang penuh sirat pengajaran…

di sebalik yang terjadi
pasti ada yang terjanji
termateri sesuatu yang pasti
jika kau redha ketentuan Ilahi…

“Barangsiapa yang mengenal hak waktu berarti dia telah mengetahui harga kehidupan, kerana waktu adalah kehidupan” -Imam Syahid Hassan al-Banna-





Bekerjalah dengan ikhlas

2 02 2009

Assalamu’alaykum wbt..

Buat renungan bersama..Semoga Allah kuatkan langkah menuju redhaNya..

*****************************

“Akh, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam da’wah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh.”
Begitu keluh kesah seorang mad’u kepada seorang murobbinya di suatu malam. Sang murobbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad’unya.
Lalu apa yang ingin anta lakukan setelah merasakan semua itu ?” sahut sang murobbi setelah sesaat termenung.
“Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan prilaku beberapa ikhwah yang justru tidak Islami. Juga dengan organisasi dakwah yang ana geluti; kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana mendingan sendiri saja,” jawab mad’u itu.
Sang murobbi termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman di wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.
Akhi, bila suatu kali anta naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah sangat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?” Tanya sang murobbi dengan kiasan bermakna dalam.
Sang mad’u terdiam dan berfikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.
“Apakah antum memilih untuk terjun kelaut dan berenang sampai tujuan?” Sang murobi mencoba memberi opsi.
“Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasa kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang hingga tujuan? Bagaimana bila ikan hiu datang. Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimanan antum mengatasi hawa dingin?” serentetan pertanyaan dihamparkan dihadapan sang mad’u. Tak ayal, sang mad’u menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun sang murobbi yang dihormati justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.
“Akhi, apakah anta masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah? Bagaimana bila ternyata mobil yang anta kendarai dalam menempuh jalan itu ternyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak dijalan, atau mencoba memperbaikinya?” Tanya sang murobbi lagi.
Sang mad’u tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya, “Cukup akhi, cukup. Ana sadar.. maafkan ana…. ana akan tetap Istiqomah. Ana berdakwah bukan untuk mendapatkan medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan… “
“Biarlah yang lain dengan urusan pribadinya masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji- Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan menjadi pelebur dosa-dosa ana”. Sang mad’u berazzam dihadapan sang murobbi yang semakin dihormatinya.
Sang murobbi tersenyum, “Akhi, jama’ah ini adalah jamaah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah. Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Allah ta’ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka dimata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka.”

“Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafir pun bisa melakukannya. Tapi kita adalah da’i. kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi. Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah.”

“Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil.tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!”

“Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada isyu atau gosip tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghil antum terhadap saudara antum sendiri.”